Anak Bangsa, Nasionalisme dan Integritas

Februari 11th, 2011 by nursetianto

indonesiaBelakangan hari ini bisa dipastikan rasa Nasionalisme kita (saya, anda, dan orang-orang di sekitar kita)  sedang membuncah hebat. Tidak lain dan tidak bukan hanya “gara-gara” sebuah benda bulat yang bernama bola. Ya, sepakbola telah membuat berbagai lapisan anak bangsa terbakar semangatnya (lagi), setelah sekian lama hilang menguap entah kemana. Jika hanya karena sebuah bola dan diwakili oleh 11 pemain di lapangan, Nasionalisme anak bangsa bisa bangkit, sudah seharusnya pula Nasionalisme itu tidak dibiarkan menguap lagi begitu saja. Benar, sepakbola kembali telah menyatukan harga diri bangsa yang tercabik dan tergerus oleh hempasan kapitalisme, materialisme dan hedonisme yang begitu kental merasuk ke raga anak bangsa. Bahkan saya (anda?) juga sudah seharusnya tidak malu mengakui hal ini.

Ideologi (baca:-isme) materi seakan tidak mau berhenti menggerogoti bangsa ini. Penghambaan akan harta dan kekuasaan yang tak terbatas, seakan bisa diperoleh jika kita mempunyai materi yang berlebih. Materi yang hanya berupa benda mati ini tak ubahnya seperti virus ganas yang tak akan bisa dihentikan oleh siapapun. Siapa yang tidak mau menjadi berkecukupan? siapa yang tidak mau dihormati? siapa yang tidak mau mempunyai kekuasaan? Sebagai sifat yang menempel erat pada manusia, kitapun tak akan pernah bisa luput dari ini semua. Penghambaan yang berlebihan, sejatinya hanya akan merendahkan derajat kita sebagai manusia ke jurang terdalam. Harkat martabat manusia jauh lebih tinggi nilainya dari itu semua, Harga diri bahkan tidak akan bisa dinilai dengan uang kartal atau emas sekalipun.

Read the rest of this entry »

Jogja dan Budaya

Desember 7th, 2010 by nursetianto

Yogyakarta DoeloeJogja adalah idiom yang sering digunakan untuk menggantikan Yogyakarta. Namun demikian saya rasa apapun nama yang disematkan untuk kota ini, sama sekali tidak menghilangkan nilai budaya jawa yang ada di kota ini. Jogja tetaplah menjadi kota yang penduduknya terlalu ramah, kota dimana seakan jarum jam enggan untuk bergerak, kota dimana ribuan orang datang silih berganti setiap tahun untuk mencari ilmu, kota dimana sebuah budaya dan tradisi masih dipegang begitu teguh oleh penduduknya.

Jika anda pernah tinggal untuk jangka waktu yang lama di kota ini, niscaya anda akan mengerti mengapa kota ini mempunyai arti sendiri di kehidupan saya. Disetiap sudut kota ini menyimpan jutaan cerita yang rasanya tidak akan habis untuk diceritakan, karena mereka telah menjadi sahabat dalam diam dan pendengar yang baik akan setiap keluh kesah yang menyeruak ke udara. Jogja selalu membuat saya berdebar menanti kesempatan untuk kembali berkunjung ke kota ini. Ya, itulah Yogyakarta.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk kembali mengunjungi kota ini. Begitu banyak rencana yang muncul di kepala saya, terlalu banyak bahkan, untuk memanfaatkan waktu yang hanya sesaat di kota ini. Salah satu rencana saya adalah mengunjungi warung fovorit mahasiswa Jogja, apalagi kalau bukan warung “burjo” yang memang tersebar hampir diseluruh sudut jalan dengan harga yang sangat masuk akal bagi mahasiswa.

Read the rest of this entry »

Manusia Instan

Oktober 13th, 2010 by nursetianto

manusia-instanSiapa yang belum pernah makan mie instan? bagaimana rasanya? enak!! Memang semua yang serba instan bisa dipastikan lebih enak daripada olahan/ natural. Walaupun pada beberapa kasus, saya pribadi lebih suka sambal olahan daripada sambal instan.

Sayangnya di negara ini semakin sering kita menemukan kata instan melekat dalam berbagai bidang -selain mie tentunya-. Dengan wanginya yang semerbak dan menggoda, membuat banyak pribadi berebut untuk menjadi manusia-manusia instan dan dengan cara yang instan. Virus instan ini begitu cepat menyebar dan sangat tidak terkontrol, karena memang tidak ada lembaga berwenang yang bisa mengontrol itu. Virus instan terutama menyerang lewat indra penglihatan kita, dengan masa inkubasi yang sangat-sangat cepat. Semoga nantinya ada peneliti yang berminat meneliti masa inkubasi virus ini.

Saat menyalakan televisi di pagi hari, kita akan melihat berbagai macam cara untuk menjadi “seseorang” dengan instan. Bahkan berbagai stasiun televisi menyediakan acara yang memfasilitasi untuk menjadi instan sesuai kemauan kita. Tinggal sebutkan saja. Artis ibukota atau orang kaya baru? tentunya dalam berbagai bentuk kemasan acara yang sangat menggoda. Read the rest of this entry »